Google Ads

Tampilkan postingan dengan label cerita rakyat. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label cerita rakyat. Tampilkan semua postingan

Rabu, 28 September 2011

KISAH NABI ADAM A.S.




Setelah Allah s.w.t.menciptakan bumi dengan gunung-gunungnya,laut-lautannya dan tumbuh-tumbuhannya,menciptakan langit dengan mataharinya,bulan dan bintang-bintangnya yang bergemerlapan menciptakan malaikat-malaikatnya ialah sejenis makhluk halus yangdiciptakan untuk beribadah menjadi perantara antara Zat Yang Maha Kuasa dengan hamba-hamba terutama para rasul dan nabinya maka tibalah kehendak Allah s.w.t. untuk menciptakan sejenis makhluk lain yang akan menghuni dan mengisi bumi memeliharanya menikmati tumbuh-tumbuhannya,mengelola kekayaan yang terpendam di dalamnya dan berkembang biak turun-temurun waris-mewarisi sepanjang masa yang telah ditakdirkan baginya
Kekhuatiran Para Malaikat.
Para malaikat ketika diberitahukan oleh Allah s.w.t. akan kehendak-Nya menciptakan makhluk lain itu,mereka khuatir kalau-kalau kehendak Allah menciptakan makhluk yang lain itu,disebabkan kecuaian atau kelalaian mereka dalam ibadah dan menjalankan tugas atau karena pelanggaran yang mereka lakukan tanpa disadari.Berkata mereka kepada Allah s.w.t.:"Wahai Tuhan kami!Buat apa Tuhan menciptakan makhluk lain selain kami,padahal kami selalu bertasbih,bertahmid,melakukan ibadah dan mengagungkan nama-Mu tanpa henti-hentinya,sedang makhluk yang Tuhan akan ciptakan dan turunkan ke bumi itu,nescaya akan bertengkar satu dengan lain,akan saling bunuh-membunuh berebutan menguasai kekayaan alam yang terlihat diatasnya dan terpendam di dalamnya,sehingga akan terjadilah kerusakan dan kehancuran di atas bumi yang Tuhan ciptakan itu."
Allah berfirman,menghilangkan kekhuatiran para malaikat itu:
"Aku mengetahui apa yang kamu tidak ketahui dan Aku sendirilah yang mengetahui hikmat penguasaan Bani Adam atas bumi-Ku.Bila Aku telah menciptakannya dan meniupkan roh kepada nya,bersujudlah kamu di hadapan makhluk baru itu sebagai penghormatan dan bukan sebagai sujud ibadah,karena Allah s.w.t. melarang hamba-Nya beribadah kepada sesama makhluk-Nya."
Kemudian diciptakanlah Adam oleh Allah s.w.t.dari segumpal tanah liat,kering dan lumpur hitam yang berbentuk.Setelah disempurnakan bentuknya ditiupkanlah roh ciptaan Tuhan ke dalamnya dan berdirilah ia tegak menjadi manusia yang sempurna

Iblis Membangkang

Iblis membangkang dan enggan mematuhi perintah Allah seperti para malaikat yang lain,yang segera bersujud di hadapan Adam sebagai penghormatan bagi makhluk Allah yang akan diberi amanat menguasai bumi dengan segala apa yang hidup dan tumbuh di atasnya serta yang terpendam di dalamnya.Iblis merasa dirinya lebih mulia,lebih utama dan lebih agung dari Adam,karena ia diciptakan dari unsur api,sedang Adam dari tanah dan lumpur.Kebanggaannya dengan asal usulnya menjadikan ia sombong dan merasa rendah untuk bersujud menghormati Adam seperti para malaikat yang lain,walaupun diperintah oleh Allah.
Tuhan bertanya kepada Iblis:"Apakah yang mencegahmu sujud menghormati sesuatu yang telah Aku ciptakan dengan tangan-Ku?"
Iblis menjawab:"Aku adalah lebih mulia dan lebih unggul dari dia.Engkau ciptakan aku dari api dan menciptakannya dari lumpur."
Karena kesombongan,kecongkakan dan pembangkangannya melakukan sujud yang diperintahkan,maka Allah menghukum Iblis dengan mengusir dari syurga dan mengeluarkannya dari barisan malaikat dengan disertai kutukan dan laknat yang akan melekat pd.dirinya hingga hari kiamat.Di samping itu ia dinyatakan sebagai penghuni neraka.

Iblis dengan sombongnya menerima dengan baik hukuman Tuhan itu dan ia hanya mohon agar kepadanya diberi kesempatan untuk hidup kekal hingga hari kebangkitan kembali di hari kiamat.Allah meluluskan permohonannya dan ditangguhkanlah ia sampai hari kebangkitan,tidak berterima kasih dan bersyukur atas pemberian jaminan itu,bahkan sebaliknya ia mengancam akan menyesatkan Adam,sebagai sebab terusirnya dia dari syurga dan dikeluarkannya dari barisan malaikat,dan akan mendatangi anak-anak keturunannya dari segala sudut untuk memujuk mereka meninggalkan jalan yang lurus dan bersamanya menempuh jalan yang sesat,mengajak mereka melakukan maksiat dan hal-hal yang terlarang,menggoda mereka supaya melalaikan perintah-perintah agama dan mempengaruhi mereka agar tidak bersyukur dan beramal soleh.

Kemudian Allah berfirman kepada Iblis yang terkutuk itu:
"Pergilah engkau bersama pengikut-pengikutmu yang semuanya akan menjadi isi neraka Jahanam dan bahan bakar neraka.Engkau tidak akan berdaya menyesatkan hamba-hamba-Ku yang telah beriman kepada Ku dengan sepenuh hatinya dan memiliki aqidah yang mantap yang tidak akan tergoyah oleh rayuanmu walaupun engkau menggunakan segala kepandaianmu menghasut dan memfitnah."
Pengetahuan Adam Tentang Nama-Nama Benda.
Allah hendak menghilangkan anggapan rendah para malaikat terhadap Adam dan menyakinkan mereka akan kebenaran hikmat-Nya menunjuk Adam sebagai penguasa bumi,maka diajarkanlah kepada Adam nama-nama benda yang berada di alam semesta,kemudian diperagakanlah benda-benda itu di depan para malaikat seraya:"Cubalah sebutkan bagi-Ku nama benda-benda itu,jika kamu benar merasa lebih mengetahui dan lebih mengerti dari Adam."
Para malaikat tidak berdaya memenuhi tentangan Allah untuk menyebut nama-nama benda yang berada di depan mereka.Mereka mengakui ketidak-sanggupan mereka dengan berkata:
"Maha Agung Engkau! Sesungguhnya kami tidak memiliki pengetahuan tentang sesuatu kecuali apa yang Tuhan ajakan kepada kami.Sesungguhnya Engkaulah Yang Maha Mengetahui dan Maha Bijaksana."
Adam lalu diperintahkan oleh Allah untuk memberitahukan nama-nama itu kepada para malaikat dan setelah diberitahukan oleh Adam,berfirmanlah Allah kepada mereka:"Bukankah Aku telah katakan padamu bahawa Aku mengetahui rahsia langit dan bumi dan mengetahui apa yang kamu lahirkan dan apa yang kamu sembunyikan."
Adam Menghuni Syurga
Adam diberi tempat oleh Allah di syurga dan baginya diciptakanlah Hawa untuk mendampinginya dan menjadi teman hidupnya,menghilangkan rasa kesepiannya dan melengkapi keperluan fitrahnya untuk mengembangkan keturunan. Menurut cerita para ulamat Hawa diciptakan oleh Allah dari salah satu tulang rusuk Adam yang disebelah kiri diwaktu ia masih tidur sehingga ketika ia terjaga,ia melihat Hawa sudah berada di sampingnya.ia ditanya oleh malaikat:"Wahai Adam! Apa dan siapakah makhluk yang berada di sampingmu itu?"
Berkatalah Adam:"Seorang perempuan."Sesuai dengan fitrah yang telah diilhamkan oleh Allah kepadanya."Siapa namanya?"tanya malaikat lagi."Hawa",jawab Adam."Untuk apa Tuhan menciptakan makhluk ini?",tanya malaikat lagi.
Adam menjawab:"Untuk mendampingiku,memberi kebahagian bagiku dan mengisi keperluan hidupku sesuai dengan kehendak Allah."
Allah berpesan kepada Adam:"Tinggallah engkau bersama isterimu di syurga,rasakanlah kenikmatan yang berlimpah-limpah didalamnya,rasailah dan makanlah buah-buahan yang lazat yang terdapat di dalamnya sepuas hatimu dan sekehendak nasfumu.Kamu tidak akan mengalami atau merasa lapar,dahaga ataupun letih selama kamu berada di dalamnya.Akan tetapi Aku ingatkan janganlah makan buah dari pohon ini yang akan menyebabkan kamu celaka dan termasuk orang-orang yang zalim.Ketahuilah bahawa Iblis itu adalah musuhmu dan musuh isterimu,ia akan berusaha membujuk kamu dan menyeret kamu keluar dari syurga sehingga hilanglah kebahagiaan yang kamu sedang nikmat ini."
Iblis Mulai Beraksi.
Sesuai dengan ancaman yang diucapkan ketika diusir oleh allah dari Syurga akibat pembangkangannya dan terdorong pula oleh rasa iri hati dan dengki terhadap Adam yang menjadi sebab sampai ia terkutuk dan terlaknat selama-lamanya tersingkir dari singgahsana kebesarannya.Iblis mulai menunjukkan rancangan penyesatannya kepada Adam dan Hawa yang sedang hidup berdua di syurga yang tenteram, damai dan bahagia.

Ia menyatakan kepada mereka bahawa ia adalah kawan mereka dan ingin memberi nasihat dan petunjuk untuk kebaikan dan mengekalkan kebahagiaan mereka.Segala cara dan kata-kata halus digunakan oleh Iblis untuk mendapatkan kepercayaan Adam dan Hawa bahawa ia betul-betul jujur dalam nasihat dan petunjuknya kepada mereka.Ia membisikan kepada mereka bahwa.larangan Tuhan kepada mereka memakan buah-buah yang ditunjuk itu adalah karena dengan memakan buah itu mereka akan menjelma menjadi malaikat dan akan hidup kekal.Diulang-ulangilah bujukannya dengan menunjukkan akan harumnya bau pohon yang dilarang indah bentuk buahnya dan lazat rasanya.Sehingga pada akhirnya termakanlah bujukan yang halus itu oleh Adam dan Hawa dan dilanggarlah larangan Tuhan.
Allah mencela perbuatan mereka itu dan berfirman yang bermaksud: "Tidakkah Aku mencegah kamu mendekati pohon itu dan memakan dari buahnya dan tidakkah Aku telah ingatkan kamu bahawa syaitan itu adalah musuhmu yang nyata."
Adam dan Hawa mendengar firman Allah itu sedarlah ia bahawa mereka telah terlanggar perintah Allah dan bahawa mereka telah melakukan suatu kesalahan dan dosa besar.Seraya menyesal berkatalah mereka:"Wahai Tuhan kami! Kami telah menganiaya diri kami sendiri dan telah melanggar perintah-Mu karena terkena bujukan Iblis.Ampunilah dosa kami karena nescaya kami akan tergolong orang-orang yang rugi bila Engkau tidak mengampuni dan mengasihi kami."

Adam dan Hawa Diturunkan Ke Bumi.
Allah telah menerima taubat Adam dan Hawa serta mengampuni perbuatan pelanggaran yang mereka telah lakukan hal mana telah melegakan dada mereka dan menghilangkan rasa sedih akibat kelalaian peringatan Tuhan tentang Iblis sehingga terjerumus menjadi mangsa bujukan dan rayuannya yang manis namun berancun itu.

Adam dan Hawa merasa tenteram kembali setelah menerima pengampunan Allah dan selanjutnya akan menjaga jangan sampai tertipu lagi oleh Iblis dan akan berusaha agar pelanggaran yang telah dilakukan dan menimbulkan murka dan teguran Tuhan itu menjadi pengajaran bagi mereka berdua untuk lebih berhati-hati menghadapi tipu daya dan bujukan Iblis yang terlaknat itu.Harapan untuk tinggal terus di syurga yang telah pudar karena perbuatan pelanggaran perintah Allah,hidup kembali dalam hati dan fikiran Adam dan Hawa yang merasa kenikmatan dan kebahagiaan hidup mereka di syurga tidak akan terganggu oleh sesuatu dan bahawa redha Allah serta rahmatnya akan tetap melimpah di atas mereka untuk selama-lamanya.Akan tetapi Allah telah menentukan dalam takdir-Nya apa yang tidak terlintas dalam hati dan tidak terfikirkan oleh mereka. Allah s.w.t.yang telah menentukan dalam takdir-nya bahawa bumi yang penuh dengan kekayaan untuk dikelolanya,akan dikuasai kepada manusia keturunan Adam memerintahkan Adam dan Hawa turun ke bumi sebagai benih pertama dari hamba-hambanya yang bernama manusia itu.Berfirmanlah Allah kepada mereka:"Turunlah kamu ke bumi sebagian daripada kamu menjadi musuh bagi sebagian yang lain kamu dapat tinggal tetap dan hidup disan sampai waktu yang telah ditentukan."

Turunlah Adam dan Hawa ke bumi menghadapi cara hidup baru yang jauh berlainan dengan hidup di syurga yang pernah dialami dan yang tidak akan berulang kembali.Mereka harus menempuh hidup di dunia yang fana ini dengan suka dan dukanya dan akan menurunkan umat manusia yang beraneka ragam sifat dan tabiatnya berbeda-beda warna kulit dan kecerdasan otaknya.Umat manusia yang akan berkelompok-kelompok menjadi suku-suku dan bangsa-bangsa di mana yang satu menjadi musuh yang lain saling bunuh-membunuh aniaya-menganianya dan tindas-menindas sehingga dari waktu ke waktu Allah mengutus nabi-nabi-Nya dan rasul-rasul-Nya memimpin hamba-hamba-Nya ke jalan yang lurus penuh damai kasih sayang di antara sesama manusia jalan yang menuju kepada redha-Nya dan kebahagiaan manusia di dunia dan akhirat.

Kisah Adam dalam Al-Quran

Al_Quran menceritakan kisah Adam dalam beberapa surah di antaranya surah Al_Baqarah ayat 30 sehingga ayat 38 dan surah Al_A'raaf ayat 11 sehingga 25

Pengajaran Yang Terdapat Dari Kisah Adam

Bahawasanya hikmah yang terkandung dalam perintah-perintah dan larangan-larangan Allah dan dalam apa yang diciptakannya kadangkala tidak atau belum dapat dicapai oelh otak manusia bahkan oleh makhluk-Nya yang terdekat sebagaimana telah dialami oleh para malaikat tatkala diberitahu bahawa Allah akan menciptakan manusia - keturunan Adam untuk menjadi khalifah-Nya di bumi sehingga mereka seakan-akan berkeberatan dan bertanya-tanya mengapa dan untuk apa Allah menciptakan jenis makhluk lain daripada mereka yang sudah patuh rajin beribadat, bertasbih, bertahmid dan mengagungkan nama-Nya
Bahawasanya manusia walaupun ia telah dikurniakan kecergasan berfikir dan kekuatan fizikal dan mental ia tetap mempunyai beberapa kelemahan pada dirinya seperti sifat lalai, lupa dan khilaf.Hal mana telah terjadi pada diri Nabi Adam yang walaupun ia telah menjadi manusia yang sempurna dan dikurniakan kedudukan yang istimewa di syurga ia tetap tidak terhindar dari sifat-sifat manusia yang lemah itu.Ia telah lupa dan melalaikan peringatan Allah kepadanya tentang pohon terlarang dan tentang Iblis yang menjadi musuhnya dan musuh seluruh keturunannya, sehingga terperangkap ke dalam tipu daya dan terjadilah pelanggaran pertama yang dilakukan oleh manusia terhadap larangan Allah.
Bahawasanya seseorang yang telah terlanjur melakukan maksiat dan berbuat dosa tidaklah ia sepatutnya berputus asa dari rahmat dan ampunan Tuhan asalkan ia sedar akan kesalahannya dan bertaubat tidak akan melakukannya kembali.Rahmat allah dan maghfirah-Nya dpt mencakup segala dosa yang diperbuat oleh hamba-Nya kecuali syirik bagaimana pun besar dosa itu asalkan diikuti dengan kesedaran bertaubat dan pengakuan kesalahan.
Sifat sombong dan congkak selalu membawa akibat kerugian dan kebinasaan.Lihatlah Iblis yang turun dari singgahsananya dilucutkan kedudukannya sebagai seorang malaikat dan diusir oleh Allah dari syurga dengan disertai kutukan dan laknat yang akan melekat kepada dirinya hingga hari Kiamat karena kesombongannya dan kebanggaaannya dengan asal-usulnya sehingga ia menganggap dan memandang rendah kepada Nabi Adam dan menolak untuk sujud menghormatinya walaupun diperintahkan oleh Allah s.w.t.

Sabtu, 02 Juli 2011

CONTOH DRAMA JAKA KENDIL SEDANG MENCARI CINTA





Pimpinan Produksi : Heru Subrata, Drs., M.Si.

Sutradara : Yuneva Dwi P

Penata Gerak :1. Luluk Iswati

2. Yuneva Dwi P

3. Frida Devita Sari

Penata Musik :1. Moch Chabib Dwi K

2. Hendro Priyo

Penata Ruang :1. Rini Susdamayanti

2. Moch Chabib

3. Rini Susdamayanti

Tata Busana :1. Aprini Dwi L

2. Ika Yuniarti

3. Lia Alfiyah

Pemain :

Moch Chabib Dwi K….Joko Kendil

Ika Yuniarti…. Mbok Indun( Ibu Joko Kendil )

Wiwik Nita,,,, Jana Loka (adik joko kendil )

Rini Susdamayanti….Bupati

Aprini Dwi L….Pramudia Wardani ( P. Bupati )

Lia Alfiyah….Pramudia Wardana (P. Bupati )

Dian Dwi M….Cantrik

Luluk Iswati….Mpok Jum

Windy Kristiani….Mpok Rah

Frida Devita S….Tukang Say

Hendro Priyo….Krisna Mukti Radadi dadi

Devi Wulan….Joko Pamungkase Gede

Yuneva dwi P….Dayang-dayang

Frida Devita Sari…. Dayang-dayang

Luluk Iswati…. Dayang-dayang

KONSEP PENYUTRADARAAN
KARAKTER

Joko Kendil ® Sabar, Pemalu , culun, Pasrah

Mbok Hindun ® Sabar, Pengertian, Penyayang

Janaloka ® Cerewet, Judes Tapi Baik hati, rajin

Mpok Jum ® Genit, Judes, usil

Mpok Rah ® Genit, Judes, cerewet

Tukang sayur ® Genit tapi baik hati

Krisna Mukti Radadi dadi ® Sombong, Pede

Joko Pamungkase Gede ®Sombong, Pede, usil

Bupati ® Berwibawa, Bijaksana

Cantrik ® Centil, Bertanggung Jawab

Pramudia Wardhani ®Centil, cerewt

Pramudia Wardhana ® Lembut tapi cerewet

ALUR CERITA ® Alur Maju]\

Latar Belakang/ Setting :

Babak I ® Beranda Rumah

Babak II ® Pertigaan desa

Babak III ® Balai Bupati

MUSIK PENGIRING :

Kicau Burung
Mendem Wedokan
Yakin ( intro )
Jangan Bilang Siapa siapa ( Intro )
Bulan ( Intro )
Mendem Wedokan (Intro )
Langen Tayub
Pejantan Tangguh
Sedang ingin bercinta
Tak bisakah
Jika aku Pilihan hatimu

SINOPSIS CERITA

Jaka Kendil mencari Cinta

Alkisah di sebuahy desa hiduplah seorang janda yang mempunyai seorang putrid yang mempunyai nama janaloka dan putranya bernamaq Tom Cruise. Konon Tom Cruise

Belum Juga menikah meskipun Usianya sudah mencapai 1/4 abad. Bukannya “ tidak laku” tetapi tidak ada yang mau. Tom Crise terkenal dengan keburukan wajahnya sehingga dia menjadi bahan tertawwaan warga desa. Dan warga desa menjulukinya dengan panggilan Joko Kendil.

Joko kendil tinggal di sebuah desa yang di pimpin oleh seorang bupati yang mempunyai 2 orang putrid yang beranjak dewasa dan belum juga menikah. Karena kebijaksanan bupati nmaka beliau mengadakan sayaembara mencari pasangan untuk kedua orang putrinya. Sayembara ini berlaku untuk semua warga desa mulai dari kaum bangsawan sampai rakyat jelata. Maka berbondong bondonglah semua warga desa mengikuti sayembara itu. Termasuk joko kendil tetapi pada akhirnya joko kendil todak mendapatkan salah satupun dari kedua putrid bupati. Joko kendil….. Joko Kendil…… Malang benar nasibmu.

Joko Kendil Mencari cinta

Alkisah di sebuah perumahan Kentrung hiduplah seorang janda dan putranya yang bernama “Tom Cruise “. Sampai usia 1/4 abad Tom Cruise belumjuga menikah. Bukannya “ tidak laku “ tetapi tidak afa yang mau. karena Tom Cruise terkenal akan keburukan rupanya , sehingga dinobatkan menjadi laki laki terjelek se desa Kentrung karena itu orang menjulukinya denagn panggilan Joko Kendil.

Babak I

(Kicauan burung )

Joko Kendil : ( jalan sambil membawa sangkar burung kesayangannya )

Janaloka : ( menyapu sambil berdendang lagu jawa )

Joko kendil : kapan aku menikah ? bias merasakan surga dunia, hi….hi…..( tertawa ) ah……..indahnya

Janaloka : Ada apa tho mas dari tadi kok ngomong sendiri kayak orang gila.

Joko kendil : Apa she kamu kecil kecil ikut saja.

Janaloka : Biarin

Jaka Kendil : ( mengerutu )

Mbok : ( berteriak teriak di belakng ) le cah bagus kamu di mana. Walah

Ini lho kayunya sudah habis

Janaloka : itu lho di panggil simbok

Joko Kendil : (diam saja sambil melamun )

Mbok : oalah le…le di sini tho kamu di sini to, dicari-cari dari tadi diam saja. Mbok kalau dipanggil tu nyaut biar simbok gak bingung ( kesal )

Janaloka : Ya Mbok dari tadi ngomong sendiri

Mbok : Sudah….. sudah……..kamu ke belakng saja cucian masih banyak.

Janaloka : tapi ini belum selesai.

Mbok : ya gak apa apa, tinggalin saja.

Joko Kendil ; Ada apa to mbok. Kok teriak teriak kayak orang kesurupan, ganggu orang saja ( kecewa )

Mbok : Kayu di belakang itu lo dah habis semua, cepetan kamu cari kayu sana jangan kerjanya Cuma melamun orang kok gak kreatif.

Joko Kendil : (ngrayu dan sedikit manja ) mbok…..mbok….kapan yaaku punya istri? Yang bias mijitin aku, bias Bantu simbok. Mbok aaku pengen kawin, udah gak tahan, hi….hi….

Musik ( mendem wedokan )

Joko Kendil : Tapi dasar nasib, aku sudah berusaha ikut kontak jodoh, katakana cinta, sampe ikut pemilihan cover boy, tapi….ah mbok tahu sendiri sapa juga yang mau sama aku. Duh gusti, apa salahku ini?

Mbok : Sudahlah sabar dulu to le…..nanti kalu sudah waktunya kamu pasti menikah. Tuhan itu maha adil.

Joko Kendil : Ya, tapi sampai kapan ? sampai kiamat!

Mbok : Ya sabar, sabar itu di sayang tuhan. Sudah cepet sana berangkat. Nanti keburu siang !

Joko Kendil : ya, mbok aku tak beramngkat dulu.

Mbok : he’ hati hati di jlan ( berjlan keluar panggung )

Joko Kendil : Ku lari ke hutan, kemudian teriakku, huah. Ka….yu…
Musik ( Yakin)

Babak II
Musik Jangan Bilang Siapa siapa

Pagi hari di pertigaan desa kentrung, detik demi detik, menit demi menit hari berganti hari. Joko Kendil belum mendaptkan jodoh, warga kampung pun kerap mempergunjingkannya. “ Dasar tante tante usil “

Mpok Jum : Jam segini kok tukang sayurnya belum datang ya ?

Mpok Rah : he’ e biasanya udah datang pasti ini tukang sayurnya telat.

Mpok Jum : eh, Jeng ada gosi baru lho. Tahu gak anak nya mpok indun yang rumahnya dekat kuburan itu lho jeng. Yang namanya dil…dil.. gitu.

Mpok Rah : Dilo, dila, dilon..sapa to jeng.

Mpok Jum : itu lho masak ga tahu, siapa namanya (mikir) oh..ya joko kendil. Masak umur sudah 1/4 abad kok ya belum menikah nikah juga. Apa anunya tidak karaten ya jeng.

Mpok Rah : Oalah, itu ta, pantesan gak laku lja wong wajahnya aja kayak pasien Face…of, yang ada di tipi..tip. sapa juga gadis yang mau ama dia. Idah jelek miskin lagi.

(Sambil terus ngerumpi kemudian tukang sayur datang )

Tukang Sayur : Sayur…sayur..tahu tempe kangkung kol kubis wortel kacang panjang tumere jahe tumbar miri jahe semuanya ada disini. Sayur bu masih seger seger lho buk seseger orangnya.

Mpok Rah : Yu, kacang panjangnya ada?

Tukang Sayur : Oh ya jelas ada panjang panjang lagi

Mpok Rah : Gini kok panjang ( sambil memegang kacang ) masih panjangan punyanya suami saya (tersenyum)

Mpok Jum :ah. Jeng ini bisa saja eh…jeng kira kira punya joko kendil masih orsinil ga ( tersenyum genit )

Tukang sayur : Walah pagi pagi kok sudah ngomong jorok pasti kemarin abis, ho’o…ho’. Dasar tante tante tukang rumpi.

Mpok Jum :Hus kecil-kecil….!

Mpok Rah : eh..eh itu mboknya datang.

( Mbok datang menghampiri tukngan sayur bersama janaloka )

Mbok : Yu, Jengkolnya ada ?

Mpok Jum : ( sambil berbisik ) maklum makannya aja jengkol pantesan saja mukanya kayak jengkol

Mpok rah :Eh mpok ya sekali kali anaknya dikasih makan ikan biar wajahnya cakep dikit, biar cepet laku.

Janaloka :kalo ngomong diatur.

Mbok : ( diam sambil memilih sayur )

Tukang sayur : Dah jangan di dengerin Mpok , eh tante jadi beli nggak dari tadi ngrumpi melulu.

Mpok Jum : ( Kesal ) ya ya jadi beli.

Mbok : da yu semuanya berapa ?

Tukang sayur :Semunya abis 5555 rupiah.

Mbok : ( sambil menyerahkan uang ) mari bu

Mpok Jum & Rah: oh ya…ya ( kaget )

Musik ( jangan bilang siapa siapa )

Babak III

Ke esokan harinyasemua warga berkumpul di taman kot.

Musik ( Bulan )

Mbok : ( Lari, sambil menarik narik joko kendil )

Joko Kendil : ( kesal )

Janaloka : Mbok ikut.

Mbok : Ayo cepat.

Joko Kendil : Ada apa to mbok aku di tarik tarik kayak sapi saja.

Mbok : Ada Woro woro

Joko Kendil : Woro-woro Mbok ?

Warga desa berbondong bondong datang. Ke balai kota.

Musik (Intro jawa )

Cantrik : ( sambil memukul kentongan ) tok…tok..tok…

Warga Desa : Ada apa, ada pengumuman penting. Apa bupati cari mantu-walh ya tha.

Cantrik : Bapak ibu saudara/I paklek bulik mbah kangkung mbah uti adik kakak. Woro-woro “ bagi jejaka jejaka yang masih single ada kabar genbira buat kalian. Bupati cari mantu langsung 2 ekor putrinya, eh salah 2 orang putrinya. Dengan syarat sebagai berikut. 1. jejaka tulen, 2. pejantan tangguh 3. usia belum mencapai 1/2 abad 4. berdomisili di desa kentrung 5. membayar biaya pendaftaran sebesar 5….rupiah dan 6. pendaftaran paling akhir 1/2 jam lagi.

Warga Desa : Ayo daftar.

( warga pergi meningkalkan balai kota )

K. Mukti radadi : Eh jo ( menghardik ) kamu juga ikut sayembara ini gak ?

Joko Kendil : ( Takut ) ya emangnya kenapa.

Joko P Gede : Ha…ha…kamu …ikut …gak salah? Nyalimu gede juga !

Joko Kendil : Lho bukannya semua boleh ikut. Apa aku salah.

K Mukti & Joko P Gede : Ya salah

Krisna Mukti R : Tau gak sayembara ini berlaku untuk yang mempunyai wajah ganteng dan kaya kayak aku gitu log’s

Joko P Gede : Wajah kayak kamu belum ikut audisi sudah di eliminasi ha….ha…

Joko Kendil : tapi…tapi aku khan gak ganggu kalian kok. Bagaimana? Kalau kita bersaing secara sehat! Mau nggak?

K Mukti R & Joko P Gede : He…he sapa takut
Musik Laskar cinta

(Musik Intro Jawa)

Hari yang di nanti pun tiba

( Di taman Kota )

Bupati : ( Mondar-mandir ) ajudanku apa semua sudah siap.

Cantrik : Siap buk tinggal teng aja.

Bupati : Bagus bagus memang kalian sudah bisa diandalkan. Aku nggak mau kalu sampe nanti gatot. Gagal total. Putriku apa kalian sudah oche.

P. Wardhani : Wah udah gak sabar ni Mom

P. Wardana : Cepetan dimulai dong Mom.

P. Wardhani : Kira kira cowok yang jadi pendampingku kayak apa ya? Aku pingin yang tinggi, putih( senyum-senyum). Pokoke jelek2 gak papa ya seukuran Brad Pitt Gitu dech.

P. Wardhana : Kalau aku penegen yang tinggi, agak item, tapi agak putih ya kayak anjasmara.

P. Wardhani : Hi dah nggak sabar nich.

P. Wardahana : Ayo dong mi. cepet di mulai.

Bupati : Ayo ajudan cepetan dimulai.

Cantrik : Tenk..tenk.. 1,2,..3… mulai

(Musik intro jawa di iringi tarian )

Akhirnya sayembara pun di mulai.

Cantrik : Kita tampilnya peserta dari kota dingin kentung, ia adalah putra dari Pak lurah kentrung. Dia mempunyai kebun seluas 4 hektar. Inilah Krisna Mukti Radadi-dadi.

Krisna Mukti : ( bergaya di iringi musik pejantan tangguh )

Cantrik : Peserta ke 2 ini, sudah tidak asing lagi, dalam dunia tahu. Dia adalah putra dari p[engusaha tahu terkaya di kotanya inilah Joko Pamungkase Gede. ( di iringi lagu Sedang Ingin bercinta )

Cantrik : Dan ini peserta terakhir kita. Dia tidak kalah dengan yang lainnya, dia memiliki wajah terjelaek se desa kentrung kita sambut. Joko Kendil.

( di iringi musik Tak bisakah )

Warga Desa : Hu…hu…hu…

P. Wardhani : Siapa tu jelek banget, eh ajudan knapa orang gila kamu suruh masuk ke sini ?

P. Wardhana : dah gitu kucel lagi. Mi ajudannya lho gak pecus.

Bupati : Sudah sudah

Cantrik : Maap saya memang slah, saya bener bener gak tau.

Pengumuman pun tiba.

Cantrik : Setelah menimbang, melihat,d an memilih akhirnya dituruskan untuk putrid 1. jatuh pada Krisna mukti radadi dadi, dan untuk putrid ke 2 jatuh pada. Joko……joko…. Panungase Gede.

Joko P Gede : Kegirangan.

Cantrik : dan Joko Kendil mendapat ucapan terima kasih. Dan akhirnya sayembara pun di tutup.

Bupati : terima kasishwargaku

(Musik aku bukan pilihan)

Putri dan putra : (Berdansa dan meninggalkan joko & Kendil Sendirian )

Joko Kendil : Nasib….nasib…duh Gusti apa salahku ? inilah cinta deritanya tiada pernah berakhir.

Selesai

AJISAKA>**ASAL USUL HURUF JAWA VERSI JAWA



Carita Aji Saka iku nyritakaké Aji Saka saka India sing mara ing Tanah Jawa. Banjur Aji Saka ngarang urutan aksara kaya mengkéné kanggo mèngeti rong panakawané sing setya nganti pati: Dora lan Sembada. Loroné mati amerga ora bisa mbuktèkaké dhawuhé sang ratu. Mula Aji Saka banjur nyiptakaké aksara Hanacaraka supaya bisa kanggo nulis layang.

Aksara Hanacaraka jenenge dijupuk saka urutan limang aksara wiwitan iki sing uniné “hana caraka“. Urutan dhasar aksara Jawa nglegena iki cacahé ana rongpuluh lan nglambangaké kabèh foném basa Jawa. Urutan aksara iki kaya mengkéné:






Hana caraka



data sawala



padha jayanya





maga bathanga



ha na ca ra ka

da ta sa wa la

pa dha ja ya nya

ma ga ba tha nga

Urutan iki uga bisa diwaca dadi ukara-ukara:

“Hana caraka” tegesé “Ana utusan”

“Data sawala” tegesé “Padha garejegan”

“Padha jayanya” tegesé “Padha digjayané”

“Maga bathanga” tegesé “Padha dadi bathang”.



Sinopsis

Versi sing kapacak ing ngisor iki miturut vèrsi ing buku Layang Hanacaraka anggitan Darmabrata (1939):

Kacarita ing jaman mbiyèn ana wong sakan Tanah Hindhustan anom jenengé Aji Saka. Dhèwèké putrané ratu, nanging kepéngin dadi pandhita sing pinter. Kasenengané mulang kawruh rupa-rupa. Dhèwèké banjur péngin lunga mencaraké ngèlmu kawruh ing Tanah Jawa.

Banjur anuju sawijining dina Aji Saka sida mangkat menyang Tanah Jawa, karo abdiné papat sing jenengé Duga, Prayoga, Dora lan Sambada. Bareng tekan ing Pulo Majethi padha lèrèn. Aji Saka banjur nilar abdiné loro; Dora lan Sambada ing pulo iku.Déné Aji Saka karo Duga lan Prayoga arep njajah Tanah Jawa dhisik. Dora lan Sambada diweling ora olèh lunga saka kono. Saliyané iku abdi loro wau dipasrahi keris pusakané, didhawuhi ngreksa, ora olèh dielungaké marang sapa-sapa.

Aji Saka banjur tindak karo abdiné loro menyang ing Tanah Jawa. Njujug ing negara Mendhang Kamolan. Sing jumeneng ratu ing kono ajejuluk Prabu Déwata Cengkar. Sang prabu iku senengané dhahar dagingé wong. Kawulané akèh sing padha wedi banjur padha ngalih menyang negara liya. Patihé ngaran Kyai Tengger.

Kacarita Aji Saka ana ing Mendhang Kamolan jumeneng guru, wong-wong padha mlebu dadi siswané. Para siswané padha tresna marang Aji Saka amerga dhèwèké seneng tetulung.

Nalika semana Aji Saka mondhok nèng omahé nyai randha Sengkeran dipèk anak karo nyai randha. Kyai patih karo nyai randha iya wis dadi siswané Aji Saka.

Anuju sawijining dina sang prabu Déwata Cengkar duka banget ora wong manèh sing bisa didhahar. Aji Saka banjur saguh dicaosaké sang nata dadi dhaharané.

Sang nyai randha lan patih dadi kagèt banget. Nanging Aji Saka celathu yèn wong loro iku ora usah kuwatir yèn dhèwèké ora bakal mati. Banjur Aji Saka diateraké ngadhep prabu Déwata Cengkar.

Prabu Déwata Cengkar ya rumangsa éman lan kersa ngangkat Aji Saka dadi priyayi, nanging Aji Saka ora gelem. Ana siji panyuwuné, yaiku nyuwun lemah saiket jembaré. Sing ngukur kudu sang prabu dhéwé.

Sang prabu Déwata Cengkar iya banjur nglilani. Nuli wiwit ngukur lemah diasta dhéwé. Iketé Aji Saka dijèrèng. Iketé tansah mulur baé, dadi amba serta dawa. Iya dituti waé déning sang prabu. Nganti notog ing segara kidul. Bareng wis mèpèd ing pinggir segara, iketé dikebutaké. Déwata Cengkar katut mlesat kecemplung ing segara. Malih dadi baya putih, ngratoni saisining segara kidul.

Wong-wong ing Mendhang Kamolan padha bungah. Awit ratuné sing diwedèni wis sirna. Seka panyuwuné wong akèh. Aji Saka nggantèni jumeneng ratu ana ing negara Mendhang Kamolan ajejuluk prabu jaka, iya prabu Widayaka. Déné patihé isih lestari kyai patih Tengger. Si Duga lan si Prayoga didadèkaké bupati, ngarané tumenggung Duduga lan tumenggung Prayoga.

Sang prabu Jaka, iya sang prabu Widayaka nimbali si Dora lan si Sambada. Kacarita sang prabu Widayaka, pinuju miyos siniwaka. Diadhep kyai patih serta para bupati. Sang prabu kèngetan abdiné sing didhawuhi ngreksa pusaka keris ana ing Pulo Majethi. Ndangu marang Duduga lan Prayoga kepriyé wartané si Dora lan si Sembada. Prayoga lan Duduga ora bisa mangsuli awit wis suwé ora krungu apa-apa.

Kacarita si Dora lan si Sambada sing kari ana ing Pulo Majethi. Wong loro iku wis padha krungu pawarta manawa gustiné wis jumeneng ratu ana ring Mendhung Kamolan. Si Dora ngajak sowan nanging si Sambada ora gelem awit wedi nerak wewaleré gustiné, ora pareng lunga-lunga seka pulo Majethi, yèn ora tinimbalan.

Nanging si Dora nékad arep sowan dhéwé. Si Sambada ditilapaké. Banjur mangkat ijèn waé. Ana ing dalan si Dora kapethuk karo tumenggung Duduga lan Prayoga. Utusan loro mau banjur diajak bali déning si Dora. Awit si Sambada dijak ora gelem. Wong telu banjur sowan ing ngarsané sang prabu.

Sang Prabu ndangu si Sembada ana ing ngendi lan diwangsuli yèn dhèwèké ora gelem diajak. Mireng aturé si Dora, sang prabu duka banget, lali dhawuhé dhéwé mbiyèn. Banjur Dora, didhawuhi bali menyang pulo Majethi lan nimbali si Sambada. Yèn meksa ora gelem didhawuhi dirampungi lan kerisé dibalèkaké.

Dora sanalika mangkat. Ing pulo Majethi ketemu karo Sembada. Kandha yèn mentas sowan gustiné. Saiki diutus nimbali si Sambada. Pusaka keris didhawuhi nggawa. Nanging si Sambada ora ngandel marang kandhané si Dora. Banjur padha padu ramé. Suwé-suwé padha kekerangan, dedreg ora ana sing kalah, awit padha digdayané. Wasana banjur padha nganggo gaman keris padha genti nyuduk. Wekasan perangé sampyuh. Si Dora lan si Sambada padha mati kabèh.

Sang Prabu ngarep-arep tekané si Dora. Wis sawetara suwéné teka durung sowan-sowan mangka didhawuhi énggal bali. Sang prabu nimbali tumenggung Duduga lan Prayoga. Didhawuhi nusul si Dora menyang pulo Majethi. Sanalika banjur mangkat.

Bareng Duduga lan Prayoga wis teka ing pulo mau, kagèt banget déné si Dora lan si Sambada ketemu wis padha mati kabèh. Tilasé mentas padha kekerangan padha tatu kena ing gaman. Pusaka keris sing dadi rereksan gumléthak ana ing sandhingé. Pusaka banjur dijupuk arep diaturaké marang gustiné.

Duduga lan Prayoga banjur bali sowan ing ngarsané gustiné lan mratélaké kahanané. Sang Prabu Widayaka kagèt banget mireng pawarané, awit pancèn kaluputané dhéwé wis kesupèn pandhawuhé. Banjur sang prabu nganggit aksara Jawa nglegena kanggo mèngeti abdiné loro iku.

sharedads1 Asal Usul Huruf Jawa ( Aji Saka )

ASAL MULA HURUF JAWA ( AJISAKA)



Alkisah, di Dusun Medang Kawit, Desa Majethi, Jawa Tengah, hiduplah seorang pendekar tampan yang sakti mandraguna bernama Aji Saka. Ia mempunyai sebuah keris pusaka dan serban sakti. Selain sakti, ia juga rajin dan baik hati. Ia senantiasa membantu ayahnya bekerja di ladang, dan menolong orang-orang yang membutuhkan pertolongannya. Ke mana pun pergi, ia selalu ditemani oleh dua orang abdinya yang bernama Dora dan Sembada.

Pada suatu hari, Aji Saka meminta izin kepada ayahnya untuk pergi mengembara bersama Dora. Sementara, Sembada ditugaskan untuk membawa dan menjaga keris pusaka miliknya ke Pegunungan Kendeng.

“Sembada! Bawa keris pusaka ini ke Pegunungan Kendeng. Kamu harus menjaganya dengan baik dan jangan berikan kepada siapa pun sampai aku sendiri yang mengambilnya!” pesan Aji Saka kepada Sembada.

“Baik, Tuan! Saya berjanji akan menjaga dan merawat keris pusaka Tuan!” jawab Sembada.

Setelah itu, berangkatlah Sembada ke arah utara menuju Gunung Kendeng, sedangkan Aji Saka dan Dora berangkat mengembara menuju ke arah selatan. Mereka tidak membawa bekal pakaian kecuali yang melekat pada tubuh mereka. Setelah setengah hari berjalan, sampailah mereka di sebuah hutan yang sangat lebat. Ketika akan melintasi hutan tersebut, tiba-tiba Aji Saka mendengar teriakan seorang laki-laki meminta tolong.

“Tolong...!!! Tolong...!!! Tolong...!!!” demikian suara itu terdengar.

Mendengar teriakan itu, Aji Saka dan Dora segera menuju ke sumber suara tersebut. Tak lama kemudian, mereka mendapati seorang laki-laki paruh baya sedang dipukuli oleh dua orang perampok.

“Hei, hentikan perbuatan kalian!” seru Aji Saka.

Kedua perampok itu tidak menghiraukan teriakan Aji Saka. Mereka tetap memukuli laki-laki itu. Melihat tindakan kedua perampok tersebut, Aji Saka pun naik pitam. Dengan secepat kilat, ia melayangkan sebuah tendangan keras ke kepala kedua perampok tersebut hingga tersungkur ke tanah dan tidak sadarkan diri. Setelah itu, ia dan abdinya segera menghampiri laki-laki itu.

“Maaf, Pak! Kalau boleh kami tahu, Bapak dari mana dan kenapa berada di tengah hutan ini?” tanya Aji Saka.

Lelaki paruh baya itu pun bercerita bahwa dia seorang pengungsi dari Negeri Medang Kamukan. Ia mengungsi karena raja di negerinya yang bernama Prabu Dewata Cengkar suka memakan daging manusia. Setiap hari ia memakan daging seorang manusia yang dipersembahkan oleh Patihnya yang bernama Jugul Muda. Karena takut menjadi mangsa sang Raja, sebagian rakyat mengungsi secara diam-diam ke daerah lain.

Aji Saka dan abdinya tersentak kaget mendengar cerita laki-laki tua yang baru saja ditolongnya itu.

“Bagaimana itu bisa terjadi, Pak?” tanya Aji Saka dengan heran.

“Begini, Tuan! Kegemaran Prabu Dewata Cengkar memakan daging manusia bermula ketika seorang juru masak istana teriris jarinya, lalu potongan jari itu masuk ke dalam sup yang disajikan untuk sang Prabu. Rupanya, beliau sangat menyukainya. Sejak itulah sang Prabu menjadi senang makan daging manusia dan sifatnya pun berubah menjadi bengis,” jelas lelaki itu.

Mendengar pejelasan itu, Aji Saka dan abdinya memutuskan untuk pergi ke Negeri Medang Kamukan. Ia ingin menolong rakyat Medang Kamukan dari kebengisan Prabu Dewata Cengkar. Setelah sehari semalam berjalan keluar masuk hutan, menyebarangi sungai, serta menaiki dan menuruni bukit, akhirnya mereka sampai di kota Kerajaan Medang Kamukan. Suasana kota itu tampak sepi. Kota itu bagaikan kota mati. Tak seorang pun yang terlihat lalu lalang di jalan. Semua pintu rumah tertutup rapat. Para penduduk tidak mau keluar rumah, karena takut dimangsa oleh sang Prabu.

“Apa yang harus kita lakukan, Tuan?” tanya Dora.

“Kamu tunggu di luar saja! Biarlah aku sendiri yang masuk ke istana menemui Raja bengis itu,” jawab Aji Saka dengan tegas.

Dengan gagahnya, Aji Saka berjalan menuju ke istana. Suasana di sekitar istana tampak sepi. Hanya ada beberapa orang pengawal yang sedang mondar-mandir di depan pintu gerbang istana.

“Berhenti, Anak Muda!” cegat seorang pengawal ketika Aji Saka berada di depan pintu gerbang istana.

“Kamu siap dan apa tujuanmu kemari?” tanya pengawal itu.

“Saya Aji Saka dari Medang Kawit ingin bertemu dengan sang Prabu,” jawab Aji Saka.

“Hai, Anak Muda! Apakah kamu tidak takut dimangsa sang Prabu?” sahut seorang pengawal yang lain.

“Ketahuilah, Tuan-Tuan! Tujuan saya kemari memang untuk menyerahkan diri saya kepada sang Prabu untuk dimangsa,” jawab Aji Saka.

Para pengawal istana terkejut mendengar jawaban Aji Saka. Tanpa banyak tanya, mereka pun mengizinkan Aji Saka masuk ke dalam istana. Saat berada di dalam istana, ia mendapati Prabu Dewata Cengkar sedang murka, karena Patih Jugul tidak membawa mangsa untuknya. Tanpa rasa takut sedikit pun, ia langsung menghadap kepada sang Prabu dan menyerahkan diri untuk dimangsa.

“Ampun, Gusti Prabu! Hamba Aji Saka. Jika Baginda berkenan, hamba siap menjadi santapan Baginda hari ini,” kata Aji Saka.

Betapa senangnya hati sang Prabu mendapat tawaran makanan. Dengan tidak sabar, ia segera memerintahkan Patih Jugul untuk menangkap dan memotong-motong tubuh Aji Saka untuk dimasak. Ketika Patih Jugul akan menangkapnya, Aji Saka mundur selangkah, lalu berkata:

“Ampun, Gusti! Sebelum ditangkap, Hamba ada satu permintaan. Hamba mohon imbalan sebidang tanah seluas serban hamba ini,” pinta Aji Saka sambil menunjukkan serban yang dikenakannya.

“Hanya itu permintaanmu, hai Anak Muda! Apakah kamu tidak ingin meminta yang lebih luas lagi?” sang Prabu menawarkan.

“Sudah cukup Gusti. Hamba hanya menginginkan seluas serban ini,” jawab Aji Saka dengan tegas.

“Baiklah kalau begitu, Anak Muda! Sebelum memakanmu, akan kupenuhi permintaanmu terlebih dahulu,” kata sang Prabu.

Aji Saka pun melepas serban yang melilit di kepalanya dan menyerahkannya kepada sang Prabu.

“Ampun, Gusti! Untuk menghindari kecurangan, alangkah baiknya jika Gusti sendiri yang mengukurnya,” ujar Aji Saka.

Prabu Dewata Cengkar pun setuju. Perlahan-lahan, ia melangkah mundur sambil mengulur serban itu. Anehnya, setiap diulur, serban itu terus memanjang dan meluas hingga meliputi seluruh wilayah Kerajaan Medang Kamulan. Karena saking senangnya mendapat mangsa yang masih muda dan segar, sang Prabu terus mengulur serban itu sampai di pantai Laut Selatan tanpa disadarinya,. Ketika ia masuk ke tengah laut, Aji Saka segera menyentakkan serbannya, sehingga sang Prabu terjungkal dan seketika itu pula berubah menjadi seekor buaya putih. Mengetahui kabar tersebut, seluruh rakyat Medang Kamulan kembali dari tempat pengungsian mereka. Aji Saka kemudian dinobatkan menjadi Raja Medang Kamulan menggantikan Prabu Dewata Cengkar dengan gelar Prabu Anom Aji Saka. Ia memimpin Kerajaan Medang Kamulan dengan arif dan bijaksana, sehingga seluruh rakyatnya hidup tenang, aman, makmur, dan sentosa.

Pada suatu hari, Aji Saka memanggil Dora untuk menghadap kepadanya.

“Dora! Pergilah ke Pegunungan Kendeng untuk mengambil kerisku. Katakan kepada Sembada bahwa aku yang menyuruhmu,” titah Raja yang baru itu.

“Daulah, Gusti!” jawab Dora seraya memohon diri.

Setelah berhari-hari berjalan, sampailah Dora di Pegunungan Gendeng. Ketika kedua sahabat tersebut bertemu, mereka saling rangkul untuk melepas rasa rindu. Setelah itu, Dora pun menyampaikan maksud kedatangannya kepada Sembada.

“Sembada, sahabatku! Kini Tuan Aji Saka telah menjadi raja Negeri Medang Kamulan. Beliau mengutusku kemari untuk mengambil keris pusakanya untuk dibawa ke istana,” ungkap Dora.

“Tidak, sabahatku! Tuan Aji berpesan kepadaku bahwa keris ini tidak boleh diberikan kepada siapa pun, kecuali beliau sendiri yang datang mengambilnya,” kata Sembada dengan tegas.

Karena merasa mendapat tanggungjawab dari Aji Saka, Dora pun harus mengambil keris itu dari tangan Sembada untuk dibawa ke istana. Kedua dua orang abdi bersahabat tersebut tidak ada yang mau mengalah. Mereka bersikeras mempertahankan tanggungjawab masing-masing dari Aji Saka. Mereka bertekad lebih baik mati daripada menghianati perintah tuannya. Akhirnya, terjadilah pertarungan sengit antara kedua orang bersahabat tersebut. Mereka sama kuat dan tangguhnya, sehingga mereka pun mati bersama.

Sementara itu, Aji Saka sudah mulai gelisah menunggu kedatangan Dora dari Pegunung Gendeng membawa kerisnya.

“Apa yang terjadi dengan Dora? Kenapa sampai saat ini dia belum juga kembali?” gumam Aji Saka.

Sudah dua hari Aji Saka menunggu, namun Dora tak kunjung tiba. Akhirnya, ia memutuskan untuk menyusul abdinya itu ke Pegunungan Gendeng seorang diri. Betapa terkejutnya ia saat tiba di sana. Ia mendapati kedua abdi setianya telah tewas. Mereka tewas karena ingin membuktikan kesetiaannya kepada tuan mereka. Untuk mengenang kesetiaan kedua abdinya tersebut, Aji Saka menciptakan aksara Jawa atau dikenal dengan istilah dhentawyanjana, yang mengisahkan pertarungan antara dua abdinya yang memiliki kesaktiaan yang sama dan tewas bersama. Huruf-huruf tersebut juga dikenal dengan istilah carakan.

PUTRI SERINDANG BULAN

Putri Serindang Bulan adalah putri ketujuh Raja Mawang yang cantik nan rupawan. Namun, ia memiliki penyakit yang aneh. Setiap kali ada raja yang melamarnya, seluruh tubuhnya tiba-tiba dipenuhi penyakit kusta. Hal itu membuat keenam kakaknya menjadi murka, karena ia menjadi aib bagi keluarga istana. Oleh karena itu, mereka berniat untuk membunuh adik bungsunya itu. Berhasilkah mereka membunuh Putri Serindang Bulan? Ikuti kisahnya dalam cerita Putri Serindang Bulan berikut ini.




Alkisah, di daerah Bengkulu, hiduplah seorang raja yang bernama Raja Mawang yang berkedudukan di Lebong. Raja Mawang mempunyai enam putra, dan seorang putri. Mereka adalah Ki Gete, Ki Tago, Ki Ain, Ki Jenain, Ki Geeting, Ki Karang Nio, dan Putri Serindang Bulan. Saat berusia senja dan tidak dapat lagi melaksanakan tugas-tugas kerajaan, Raja Mawang menunjuk putra keenamnya, Ki Karang Nio yang bergelar Sultan Abdullah, untuk menggantikan kedudukannya. Tidak beberapa lama setelah Ki Karang Nio menjabat sebagai raja, Raja Mawang pun wafat.

Sepeninggal Raja Mawang, terjadilah prahara di antara putra-putrinya akibat penyakit kusta yang diderita oleh Putri Serindang Bulan. Penyakit itu muncul setiap kali ada raja yang datang melamarnya. Akibatnya, pertunangan pun selalu batal. Anehnya, jika pertunangan itu batal, penyakit kusta itu pun hilang. Peristiwa tersebut tidak hanya sekali terjadi, tetapi berulang hingga sembilan kali. Peristiwa tersebut menjadi aib bagi keluarga istana. Oleh karena itu, keenam kakak Putri Serindang Bulan mengadakan pertemuan untuk mencari cara agar dapat menghapus aib tersebut.

“Jika hal ini dibiarkan terus terjadi, nama baik keluarga kita akan semakin jelek di mata para raja. Apa yang harus kita lakukan untuk mengatasi masalah ini?” tanya Ki Gete membuka pembicaraan.

Mendengar pertanyaan itu, kelima saudaranya hanya terdiam. Sejenak, suasana sidang menjadi hening. Di tengah keheningan itu, tiba-tiba Ki Karang Nio angkat bicara.
“Bagaimana kalau Putri Serindang Bulan kita asingkan saja ke tempat yang jauh dari keramaian,” usul Ki Karang Nio.
“Apakah ada yang setuju dengan usulan Ki Karang Nio?” tanya Ki Gete.
Tak seorang pun peserta sidang yang menjawab. Rupanya, mereka tidak sepakat dengan usulan Ki Karang Nio.
“Kalau menurutku, sebaiknya Putri Serindang Bulan kita bunuh saja,” sahut Ki Tago.

Mendengar usulan Ki Tago, para putra Raja Mawang tersebut langsung sepakat, kecuali Ki Karang Nio. Meskipun ia seorang raja, Ki Karang Nio harus menerima keputusan itu, karena ia kalah suara oleh kakak-kakaknya. Dalam pertemuan itu juga diputuskan bahwa Ki Karang Nio-lah yang harus melaksanakan tugas itu. Untuk membuktikan bahwa ia telah melaksanakan tugasnya, ia harus membawa pulang setabung darah Putri Serindang Bulan.

Setelah pertemuan selesai, Ki Karang Nio segera menemui Putri Serindang Bulan. Betapa sedihnya hati putri yang malang itu mendengar keputusan kakak-kakaknya. Namun, ia tidak dapat berbuat apa-apa. Ia hanya bisa pasrah dan menyerahkan nasibnya kepada Tuhan Yang Mahakuasa Kuasa.
“Ya, Tuhan! Lindungilah hambamu yang tidak berdaya ini!” ucap Putri Serindang Bulan dengan air mata bercucuran membasahi pipinya yang berwarna kemerah-merahan.
“Maafkan aku, Dik! Aku juga tidak berdaya menghadapi mereka,” ucap Ki Karang Nio seraya menghapus air mata adiknya.

Pada hari yang telah ditentukan, Ki Karang Nio pun bersiap-siap untuk membawa adiknya ke sebuah hutan yang sangat lebat untuk dibunuh. Sebelum mereka berangkat, Putri Serindang Bulan mengajukan satu permohonan kepada Ki Karang Nio.
“Kak, bolehkah Adik membawa bakoa (tempat daun sirih) dan ayam hirik peliharaanku?” pinta Putri Serindang Bulan.
“Untuk apa, Adikku?” tanya Ki Karang Nio.
“Jika Adik telah mati, kuburkanlah bakoa dan ayam hirik ini bersama jasad Adik. Hanya itulah yang Adik miliki selain Kakak,” jawab Putri Serindang Bulan.

Setelah berpamitan kepada kakak-kakaknya, Ki Karang Nio dan Putri Serindang Bulan pun berangkat menuju ke hutan. Di sepanjang perjalanan, kedua kakak-beradik tersebut tidak pernah saling menyapa. Hati Putri Serindang Bulan diselimuti perasaan sedih, sedangkan Ki Karang Nio berpikir mencari cara agar adiknya bisa selamat. Setelah berpikir keras, akhirnya ia pun menemukan cara untuk mengelabui kakaknya. Setibanya di tengah hutan, mereka pun berhenti di tepi Sungai Air Ketahun.
“Adikku, sepertinya kita sudah terlalu jauh berjalan. Sebaiknya kita berhenti di sini saja!” Seru Ki Karang Nio.
“Baiklah, Kak! Silahkan laksanakan tugas Kakak!” seru Puri Serindang Bulan.
“Tidak, Adikku! Aku tidak akan sampai hati membunuh adik kandungku sendiri,” kata Ki Karang Nio.
“Lakukanlah, Kak! Adik rela mati demi keselamatan Kakak. Jika Kakak tidak membunuh Adik, nyawa Kakak akan terancam. Saudara-saudara kita di istana pasti akan membunuh Kakak,” desak Putri Serindang Bulan.
Akhirnya, Ki Karang Nio memberitahukan rencananya kepada Putri Serindang Bulan bahwa ia akan mengelabui kakak-kakaknya.
“Aku tidak akan membunuhmu, Adikku! Aku akan membuatkanmu sebuah rakit. Dengan rakit itu, kamu ikuti aliran Sungai Air Ketahun ini. Kakak berharap ada orang yang menolongmu,” ujar Ki Karang Nio.
“Tapi, bukankah Kakak harus membawa pulang setabung darah Adik untuk dijadikan bukti kepada mereka?” tanya Putri Serindang Bulan.
“Benar, Adikku! Jika kamu tidak keberatan, bolehkah aku menyayat tanganmu? Aku akan mengambil sedikit darahmu dan mencampurkannya dengan darah binatang,” pinta Ki Karang Nio.
“Silahkan, Kak! Kakak pun boleh menyembelih ayam hirik ini untuk diambil darahnya!” seru Putri Serindang Bulan.

Dengan berat hati, Ki Karang Nio pun menyayat tangan Putri Serindang Bulan. Kemudian, darah yang keluar dari tangan adiknya tersebut ia campurkan dengan darah ayah hirik yang telah disembelih sebelumnya, lalu ia masukkan ke dalam tabung. Setelah itu, ia menyuruh Serindang Bulan untuk naik ke rakit yang sudah disiapkan.
“Pergilah, Adikku! Hati-hatilah di jalan! Semoga Tuhan Yang Mahakuasa senatiasa melindungimu!” seru Ki Karang Nio.
“Terima kasih, Kak! Semoga kita dapat bertemu kembali,” ucap Putri Serindang Bulan sambil meneteskan air mata.

Ki Karang Nio pun tidak mampu membendung air matanya. Ia tidak tega melihat adik yang sangat disayanginya itu hanyut terbawa aliran air sungai. Setelah Putri Serindang Bulan hilang dari pandangannya, Ki Karang Nio pun bergegas kembali ke istana untuk melapor kepada kakak-kakaknya bahwa ia telah melaksanakan tugasnya. Kakak-kakaknya pun mempercayainya dengan bukti berupa tabung yang berisi darah tersebut.

Sementara itu, setelah berhari-hari hanyut di sungai, Putri Serindang Bulan akhirnya terdampar di Pulau Pagai, di lepas pantai muara Air Ketahun. Berkat pertolongan Tuhan Yang Mahakuasa, ia ditemukan oleh Raja Indrapura yang sedang berburu di pulau itu.
“Hai, Putri Cantik! Kamu siapa dan kenapa bisa berada di tempat ini?” tanya Raja Indrapura.

Putri Serindang Bulan pun menceritakan semua peristiwa yang dialaminya hingga ia berada di tempat itu. Mendengar cerita itu, Raja Indrapura sangat terharu. Akhirnya, ia membawa Putri Serindang Bulan ke istananya di Negeri Setio Barat. Tak berapa lama kemudian, terdengarlah kabar bahwa Raja Indrapura akan menikah dengan Putri Serindang Bulan. Berkat kesaktian Raja Indrapura, penyakit kusta sang Putri tidak pernah kambuh lagi. Berita tentang pernikahan mereka pun sampai ke telinga kakak-kakaknya di Lebong.
“Apa, Putri Serindang Bulan masih hidup?” celetuk Ki Gete setelah mendengar laporan dari seorang prajurit istana.

Ki Gete dan keempat adiknya sangat marah kepada Ki Karang Nio, karena telah mengelabui mereka. Namun, mereka tidak berani membunuh adiknya itu, karena takut mendapat murka dari Raja Indrapura. Akhirnya, mereka bersepakat untuk menghadiri pesta perkawinan Putri Serindang Bulan dengan Raja Indrapura di Negeri Setio Barat. Ki Karang Nio tidak lupa membawa perselen, yaitu semacam emas sebagai uang jujur Putri Serindang Bulan. Setibanya di pesta tersebut, Putri Serindang Bulan dan Raja Indrapura pun menyambut kedatangan mereka dengan ramah. Bahkan ketika mereka akan kembali ke Lebong, Raja Indrapura menghadiahi mereka berbagai perhiasan emas.

Dalam perjalanan pulang ke Lebong, kapal yang mereka tumpangi diterjang badai dan dihempas ombak besar hingga pecah. Mereka terdampar di sebuah pulau yang bernama pulau yang bernama Ipuh. Semua perhiasan emas pemberian Raja Indrapura tersebut tenggelam di dasar laut, kecuali milik Ki Karang Nio. Rupanya, kelima kakaknya itu iri hati kepada Ki Karang Nio dan berniat untuk membunuhnya, lalu mengambil perhiasannya. Mengetahui niat busuk kakak-kakaknya itu, Ki Karang Nio pun menyampaikan kata-kata bijak kepada mereka.
“Hartoku harto udi, haro udi hartoku, barang udi cigai, uku maglek igai.” Artinya:
“Hartaku harta kalian, harta kalian adalah hartaku, barang kalian hilang, aku memberinya.”

Rupanya kata-kata bijak Ki Karang Nio tersebut benar-benar menyentuh perasaan kelima kakaknya. Apalagi ketika Ki Karang Nio membagikan hartanya kepada mereka dengan jumlah yang sama, hati kelima kakaknya itu semakin tersentuh karena kemuliaan hati adiknya.
“Adikku! Engkau adalah saudaraku yang arif dan bijaksana. Engkau memang pantas menjadi Raja di Lebong,” ucap Ki Gete dengan perasaan kagum.
“Benar, Adikku! Kami sangat bangga memiliki adik sepertimu. Kami sangat menyesal karena selalu bertindak kasar terhadapmu. Kembalilah ke Lebong, Adikku! Kami akan tinggal di pulau ini saja,” seru Ki Jenain.

Ketika Ki Karang Nio akan berpamitan hendak kembali ke Lebong, salah seorang kakaknya berkata, ”Huo ite sa‘ok, kame cigai belek! (artinya: sekarang ini kita berpisah dan kami tidak akan pulang lagi!)” Menurut empunya cerita, kata-kata tersebut menjadi terkenal di kalangan masyarakat Lebong, karena tempat mereka mengucapkan kata-kata tersebut sekarang dinamakan Teluk Sarak. Kata sarak diambil dari kata sa‘ok, yang berarti berpisah.

Sekembalinya ke Lebong, Ki Karang Nio menikah dengan seorang putri raja dan kemudian dikaruniai dua orang putra, yaitu Ki Pati dan Ki Pandan. Ia memerintah rakyat Lebong dengan arif dan bijaksana. Ketika usianya sudah tua, Ki Karang Nio meminta adiknya, Putri Serindang Bulan yang menjadi permaisuri di kerajaan lain, agar kembali ke Lebong untuk memilih salah seorang putranya yang akan menggantikannya sebagai raja.

Akhirnya, ketika kembali ke Lebong bersama suaminya, Putri Serindang Bulan menetapkan Ki Pandan untuk menggantikan ayahnya, Ki Karang Nio. Sementara Ki Pati mendirikan biku di sebuah daerah yang kini dikenal dengan Somelako.
* * *
Demikian dongeng Putri Serindang Bulan dari daerah Bengkulu. Menurut cerita, Putri Serindang Bulan merupakan lambang kebijaksanaan, keadilan, dan kecantikan di Lebong. Oleh masyarakat setempat, ia juga dijuluki sebei Lebong (nenek Lebong). Ia menjadi lambang kebijaksanaan, keadilan, dan kecantikan, karena selain berwajah cantik nan rupawan, ia memiliki sifat yang adil dan bijaksana. Ia juga tidak pernah menaruh dendam kepada kakak-kakaknya yang telah berencana membunuhnya.

Selain itu, cerita di atas juga memberikan pelajaran bahwa antarsesama saudara harus saling menyayangi dan melindungi. Hal ini ditunjukkan oleh sifat dan perilaku Ki Karang Nio. Karena sifat kasih sayangnya, ia selalu melindungi adik kandungnya, Putri Serindang Bulan. Bagi orang Melayu, dengan berkasih sayang antarsesama, kehidupan yang aman, damai, dan sejahtera dapat diwujudkan. Dikatakan dalam tunjuk ajar Melayu

JAKA TARUP DAN 7 BIDADARI

Dahulu kala, di Desa Tarub, tinggal­lah seorang janda bernama Mbok Randa Tarub. Sejak suaminya me­­ninggal dunia, ia mengangkat seorang bo­­­cah laki-laki sebagai anaknya. Setelah dewa­sa, anak itu dipanggilnya Jaka Tarub.




Jaka Tarub anak yang baik. Tangannya ringan melakukan pekerjaan. Setiap hari, ia membantu Mbok Randha mengerjakan sawah ladangnya. Dari hasil sawah ladang itulah mereka hidup. Mbok Randha amat mengasihi Jaka Tarub seperti anaknya sendiri.

Waktu terus berlalu. Jaka Tarub ber­anjak dewasa. Wajahnya tampan, tingkah lakunya pun sopan. Banyak gadis yang men­dambakan untuk menjadi istrinya. Na­mun Jaka Tarub belum ingin beristri. Ia ingin berbakti kepada Mbok Randha yang di­anggap­nya sebagai ibunya sendiri. Ia be­ker­ja se­makin tekun, sehingga hasil sawah ladang­nya melimpah. Mbok Randha yang pe­­murah akan membaginya dengan te­tang­ga­nya yang kekurangan. “Jaka Tarub, Anakku. Mbok lihat kamu sudah de­wasa. Sudah pantas meminang gadis. Lekaslah me­nikah, Simbok ingin menimang cucu,” kata Mbok Randha suatu hari.
“Tarub belum ingin, Mbok,” jawab Jaka Tarub.
“Tapi jika Simbok tiada kelak, siapa yang akan mengurusmu?” tanya Mbok Randha lagi.
“Sudahlah, Mbok. Semoga saja Sim­bok berumur panjang,” jawab Jaka Tarub singkat.
“Hari sudah siang, tetapi Simbok be­lum bangun. Kadingaren ...,” gumam Jaka Tarub suatu pagi. “Simbok sakit ya?” tanya Jaka Tarub meraba kening simboknya.
“Iya, Le,” jawab Mbok Randha lemah.
“Badan Simbok panas sekali,” kata Jaka Tarub cemas. Ia segera mencari daun dhadhap serep untuk mengompres simbok­nya. Namun rupanya umur Mbok Randha ha­nya sampai hari itu. Menjelang siang, Mbok Randha menghembuskan napas ter­akhirnya.

Sejak kematian Mbok Randha, Jaka Tarub sering melamun. Kini sawah ladang­nya terbengkalai. “Sia-sia aku bekerja. Un­­tuk siapa hasilnya?” demikian gumam Jaka Tarub.

Suatu malam, Jaka Tarub bermimpi me­makan daging rusa. Saat terbangun dari mimpinya, Jaka Tarub menjadi ber­se­­lera ingin makan daging rusa. Maka pagi itu, Jaka Tarub pergi ke hutan sambil mem­bawa sumpitnya. Ia ingin menyumpit rusa. Hingga siang ia berjalan, namun tak seekor rusa pun dijumpainya. Jangankan rusa, kancil pun tak ada. Padahal Jaka Tarub sudah masuk ke hutan yang jarang diambah manusia. Ia kemudian duduk di bawah pohon dekat telaga melepas lelah. Angin sepoi-sepoi membuatnya tertidur.



Tiba-tiba, sayup-sayup terdengar de­rai tawa perempuan yang bersuka ria. Jaka Tarub tergagap. “Suara orangkah itu?” gu­mamnya. Pandangannya ditujukan ke te­la­­­ga. Di telaga tampak tujuh perempuan can­­tik tengah bermain-main air, bercanda, ber­­suka ria. Jaka Tarub menganga melihat ke­­cantikan mereka. Tak jauh dari telaga, ter­geletak selendang mereka. Tanpa pikir panjang, diambilnya satu selendang, ke­mu­di­­an disembunyikannya.
“Nimas, ayo cepat naik ke darat. Hari su­dah sore. Kita harus segera kembali ke kah­yangan,” kata Bidadari tertua. Bidadari yang lain pun naik ke darat. Mereka kem­bali mengenakan selendang masing-masing. Na­­­mun salah satu bidadari itu tak mene­­mu­kan selendangnya.
“Kakangmbok, selendangku tidak ada,” katanya.

Keenam kakaknya turut membantu men­­cari, namun hingga senja tak ditemu­kan juga. “Nimas Nawang Wulan, kami tak bi­sa menunggumu lama-lama. Mungkin su­­dah nasibmu tinggal di mayapada,” kata Bidadari tertua. “Kami kembali ke kah­ya­ngan,” tambahnya.

Nawang Wulan menangis sendirian meratapi nasibnya. Saat itulah Jaka Tarub menolongnya. Diajaknya Nawang Wulan pulang ke rumah. Kini hidup Jaka Tarub kembali cerah. Beberapa bulan kemudian, Jaka Tarub menikahi Nawang Wulan. Keduanya hidup berbahagia. Tak lama kemudian Nawang Wulan melahirkan Nawangsih, anak mereka.

Pada suatu hari, Nawang wulan ber­pesan kepada Jaka Tarub, “Kakang, aku sedang memasak nasi. Tolong jagakan apinya, aku hendak ke kali. Tapi jangan dibuka tutup kukusan itu,” pinta Nawang Wu­lan. Sepeninggal istrinya, Jaka Tarub pe­­na­saran dengan larangan istrinya. Ma­ka dibukanya kukusan itu. Setangkai padi tampak berada di dalam kukusan. “Pan­tas padi di lumbung tak pernah habis. Rupa­nya istriku dapat memasak setangkai padi menjadi nasi satu kukusan penuh,” gumam­nya. Saat Nawang Wulan pulang, ia mem­buka tutup kukusan. Setangkai padi ma­sih tergolek di dalamnya. Tahulah ia bahwa suaminya telah membuka kukusan hingga hilanglah kesaktiannya. Sejak saat itu, Na­wang Wulan harus menumbuk dan me­nam­pi beras untuk dimasak, seperti wa­ni­ta umumnya. Karena tumpukan pa­di­­nya terus berkurang, suatu waktu, Na­­wang Wulan menemukan selendang bi­da­­­da­ri­nya terselip di antara tumpukan pa­di. Tahulah ia bahwa suaminyalah yang me­­nyem­bu­nyi­kan selendang itu. Dengan se­ge­ra dipakainya selendang itu dan pergi menemui suaminya.
“Kakang, aku harus kembali ke kah­yangan. Jagalah Nawangsih. Buatkan da­ngau di sekitar rumah. Setiap malam letak­­kan Nawangsih di sana. Aku akan datang me­nyusuinya. Namun Kakang ja­nganlah mendekat,” kata Nawang Wulan, kemu­di­an terbang ke menuju kahyangan.


Jaka Tarub menuruti pesan istrinya. Ia buat dangau di dekat rumahnya. Setiap malam ia memandangi anaknya ber­­­­main-main dengan ibunya. Setelah Na­wang­sih tertidur, Nawang Wulan kem­bali ke kah­ya­ngan. Demikian hal itu ter­jadi berulang-ulang hingga Nawangsih besar. Walaupun de­mikian, Jaka Tarub dan Nawangsih me­­­­­­rasa Na­wang Wulan selalu menjaga me­reka. Di saat ke­duanya mengalami ke­sulit­­an, ban­­tu­­an akan datang tiba-tiba. Ko­non itu ada­lah bantuan dari Nawang Wulan.

Mbok, simbok : Bu, ibu.
Kadingaren : tumben.
Le, thole : panggilan untuk anak lelaki di Jawa.
Diambah : dijamah, diinjak.
Nimas : adik; panggilan untuk adik perempuan.
Kakangmbok : kakak; panggilan untuk kakak perem­puan.
Mayapada : bumi.
Kakang : kakak; panggilan untuk kakak laki-laki/ untuk suami.
Kali : sungai.
Kukusan : alat pengukus berbentuk kerucut, ter­­buat dari bambu yang dianyam.

CERITA BUNGA KEMUNING



Dahulu kala, ada seorang raja yang memiliki sepuluh orang puteri yang cantik-cantik. Sang raja dikenal sebagai raja yang bijaksana. Tetapi ia terlalu sibuk dengan kepemimpinannya, karena itu ia tidak mampu untuk mendidik anak-anaknya. Istri sang raja sudah meninggal ketika melahirkan anaknya yang bungsu, sehingga anak sang raja diasuh oleh inang pengasuh. Puteri-puteri Raja menjadi manja dan nakal. Mereka hanya suka bermain di danau. Mereka tak mau belajar dan juga tak mau membantu ayah mereka. Pertengkaran sering terjadi di antara mereka.

Kesepuluh puteri itu dinamai dengan nama-nama warna. Puteri Sulung bernama Puteri Jambon. Adik-adiknya dinamai Puteri Jingga, Puteri Nila, Puteri Hijau, Puteri Kelabu, Puteri Oranye, Puteri Merah Merona dan Puteri Kuning, Baju yang mereka pun berwarna sama dengan nama mereka. Dengan begitu, sang raja yang sudah tua dapat mengenali mereka dari jauh. Meskipun kecantikan mereka hampir sama, si bungsu Puteri Kuning sedikit berbeda, ia tak terlihat manja dan nakal. Sebaliknya ia selalu riang dan dan tersenyum ramah kepada siapapun. Ia lebih suka berpergian dengan inang pengasuh daripada dengan kakak-kakaknya.

Pada suatu hari, raja hendak pergi jauh. Ia mengumpulkan semua puteri-puterinya. “Aku hendak pergi jauh dan lama. Oleh-oleh apakah yang kalian inginkan?” tanya raja.

“Aku ingin perhiasan yang mahal,” kata Puteri Jambon.

“Aku mau kain sutra yang berkilau-kilau,” kata Puteri Jingga. 9 anak raja meminta hadiah yang mahal-mahal pada ayahanda mereka. Tetapi lain halnya dengan Puteri Kuning. Ia berpikir sejenak, lalu memegang lengan ayahnya.

“Ayah, aku hanya ingin ayah kembali dengan selamat,” katanya. Kakak-kakaknya tertawa dan mencemoohkannya.

“Anakku, sungguh baik perkataanmu. Tentu saja aku akan kembali dengan selamat dan kubawakan hadiah indah buatmu,” kata sang raja. Tak lama
kemudian, raja pun pergi.

Selama sang raja pergi, para puteri semakin nakal dan malas. Mereka sering membentak inang pengasuh dan menyuruh pelayan agar menuruti mereka. Karena sibuk menuruti permintaan para puteri yang rewel itu, pelayan tak sempat membersihkan taman istana. Puteri Kuning sangat sedih melihatnya karena taman adalah tempat kesayangan ayahnya. Tanpa ragu, Puteri Kuning mengambil sapu dan mulai membersihkan taman itu. Daun-daun kering dirontokkannya, rumput liar dicabutnya, dan dahan-dahan pohon dipangkasnya hingga rapi. Semula inang pengasuh melarangnya, namun Puteri Kuning tetap berkeras mengerjakannya. Kakak-kakak Puteri Kuning yang melihat adiknya menyapu, tertawa keras-keras. “Lihat tampaknya kita punya pelayan baru,” kata seorang diantaranya.

“Hai pelayan! Masih ada kotoran nih!” ujar seorang yang lain sambil melemparkan sampah. Taman istana yang sudah rapi, kembali acak-acakan. Puteri Kuning diam saja dan menyapu sampah-sampah itu. Kejadian tersebut terjadi berulang-ulang sampai Puteri Kuning kelelahan. Dalam hati ia bisa merasakan penderitaan para pelayan yang dipaksa mematuhi berbagai perintah kakak-kakaknya.

“Kalian ini sungguh keterlaluan. Mestinya ayah tak perlu membawakan apa-apa untuk kalian. Bisanya hanya mengganggu saja!” Kata Puteri Kuning dengan marah.

“Sudah ah, aku bosan. Kita mandi di danau saja!” ajak Puteri Nila. Mereka meninggalkan Puteri Kuning seorang diri. Begitulah yang terjadi setiap hari, sampai ayah mereka pulang. Ketika sang raja tiba di istana, kesembilan puterinya masih bermain di danau, sementara Puteri Kuning sedang merangkai bunga di teras istana. Mengetahui hal itu, raja menjadi sangat sedih.

Anakku yang rajin dan baik budi! Ayahmu tak mampu memberi apa-apa selain kalung batu hijau ini, bukannya warna kuning kesayanganmu!” kata sang raja. Raja memang sudah mencari-cari kalung batu kuning di berbagai negeri, namun benda itu tak pernah ditemukannya.

“Sudahlah Ayah, tak mengapa. Batu hijau pun cantik! Lihat, serasi benar dengan bajuku yang berwarna kuning,” kata Puteri Kuning dengan lemah lembut.

“Yang penting, ayah sudah kembali. Akan kubuatkan teh hangat untuk ayah,” ucapnya lagi. Ketika Puteri Kuning sedang membuat teh, kakak-kakaknya berdatangan. Mereka ribut mencari hadiah dan saling memamerkannya. Tak ada yang ingat pada Puteri Kuning, apalagi menanyakan hadiahnya.

Keesokan hari, Puteri Hijau melihat Puteri Kuning memakai kalung barunya. “Wahai adikku, bagus benar kalungmu! Seharusnya kalung itu menjadi milikku, karena aku adalah Puteri Hijau!” katanya dengan perasaan iri.

“Ayah memberikannya padaku, bukan kepadamu,” sahut Puteri Kuning. Mendengarnya, Puteri Hijau menjadi marah. Ia segera mencari saudara-saudaranya dan menghasut mereka.

“Kalung itu milikku, namun ia mengambilnya dari saku ayah. Kita harus mengajarnya berbuat baik!” kata Puteri Hijau. Mereka lalu sepakat untuk merampas kalung itu. Tak lama kemudian, Puteri Kuning muncul. Kakak-kakaknya menangkapnya dan memukul kepalanya. Tak disangka, pukulan tersebut menyebabkan Puteri Kuning meninggal.

“Astaga! Kita harus menguburnya!” seru Puteri Jingga. Mereka beramai-ramai mengusung Puteri Kuning, lalu menguburnya di taman istana. Puteri Hijau ikut mengubur kalung batu hijau, karena ia tak menginginkannya lagi. Sewaktu raja mencari Puteri Kuning, tak ada yang tahu kemana puteri itu pergi. Kakak-kakaknya pun diam seribu bahasa. Raja sangat marah. “Hai para pengawal! Cari dan temukanlah Puteri Kuning!” teriaknya.

Tentu saja tak ada yang bisa menemukannya. Berhari-hari, berminggu-minggu, berbulan-bulan, tak ada yang berhasil mencarinya. Raja sangat sedih. “Aku ini ayah yang buruk,” katanya.” Biarlah anak-anakku kukirim ke tempat jauh untuk belajar dan mengasah budi pekerti!” Maka ia pun mengirimkan puteri-puterinya untuk bersekolah di negeri yang jauh. Raja sendiri sering termenung-menung di taman istana, sedih memikirkan Puteri Kuning yang hilang tak berbekas.

Suatu hari, tumbuhlah sebuah tanaman di atas kubur Puteri Kuning. Sang raja heran melihatnya. “Tanaman apakah ini? Batangnya bagaikan jubah puteri, daunnya bulat berkilau bagai kalung batu hijau, bunganya putih kekuningan dan sangat wangi! Tanaman ini mengingatkanku pada Puteri Kuning. Baiklah, kuberi nama ia Kemuning.!” kata raja dengan senang. Sejak itulah bunga kemuning mendapatkan namanya. Bahkan, bunga-bunga kemuning bisa digunakan untuk mengharumkan rambut. Batangnya dipakai untuk membuat kotak-kotak yang indah, sedangkan kulit kayunya dibuat orang menjadi bedak. Setelah mati pun, Puteri Kuning masih memberikan kebaikan.

Senin, 07 Februari 2011

cerita rakyat bawang merah bawang merah bawang putih versi inggris


                                                                 Red Onion and Garlic

Time ago in a village lived a family consisting of father, mother and a beautiful teenage girl named garlic. They are a happy family. Although garlic dad just ordinary traders, but they live in harmony and peace. But one day garlic mother was seriously ill and eventually died. Garlic is very sad as well as his father.
 
In the village lived a widow who also has a son named Onion. Since the mother died Garlic, Shallots mother often visited the house of Garlic. He often brought food, helped clean the house or garlic Garlic and only accompany his father to talk. Garlic father finally thought that maybe it's better if he had married only with the mother Onion, Garlic not so lonely anymore.
 
With consideration of garlic, then the father is married to the mother Garlic onion. Originally maternal red onion and red onion to the garlic is very good. But over time their true nature began to appear.
They often berated garlic and gave him a job if the father Garlic weight is going to trade. Garlic should be doing all the housework, while the red onion and her mother sitting alone. Of course Garlic father did not know it, because garlic is never told.
 
One day Garlic father fell ill and later died. Since then the red onion and mother increasingly powerful and persecution of Garlic. Garlic is almost never at rest. He had to get up before dawn, to prepare the water bath and breakfast for the red onion and mother. Then he had to feed livestock, watering gardens and washing clothes into a river. Then she still has to ironing, cleaning the house, and many other jobs. However Garlic always do their work with joy, because he hopes one day her stepmother would love him like his own biological child.
 
This morning as usual Garlic carrying baskets of clothes to be washed in a river. With little singing him down a path at the edge of an ordinary small forest path. The day was very sunny weather. Garlic immediately wash all dirty clothes he was carrying. Because of too much fun, Garlic does not realize that one of the clothes have been washed away. Unfortunately the clothes are washed favorite shirt stepmother. When he realized it, clothes have been washed away stepmother too far. Garlic try down the river to look for him, but could not find it. In desperation, he returned home and told his mother.
 
"Basic careless!" Snapped her stepmother.
"I do not want to know, anyway you should find that outfit! And do not dare go home if you have not found it. Understand? "
 
Garlic is forced to obey the wishes ibun stepfather. He quickly washed down the river where he was. The sun had started rising, but the Garlic is yet to find his mother's clothes. He put his eye, carefully examining each overhung root that juts into the river, who knows his mother's clothes caught there. After a long walk and the sun was already leaning to the west, Garlic saw a shepherd who was bathing buffalo. Garlic then asked: "O my good uncle, if uncle saw the red dress who float through here? Because I had to find and bring him home. "" Yes I had seen my son. If you catch quickly, maybe you can catch him, "said the uncle.
 
"Well uncle, thank you!" Said Garlic and immediately ran back down. It was getting dark, Garlic is getting desperate. Soon night will come, and Garlic. From a distance looks light coming from a shack on the riverbank. Garlic immediately went to the house and knocked.
"Excuse me ...!" Said Garlic. An old woman opened the door.
"Who are you boy?" Asked the old woman.
"My Grandma Garlic. Just now I'm looking for my mother who washed clothes. And now benighted. Can I stay here tonight? "Asked Garlic.
"May my son. Are you looking for clothes that are red? "Asked grandma.
"Yes Grandma. What ... grandmother found her? "Asked Garlic.
 
"Yes. Earlier dress snagged in front of my house. Unfortunately, though I liked the clothes, "said the grandmother. "Well I'll return it, but first you must accompany me here for a week. I have not talked with anyone, how? "Pleaded white nenek.Bawang thought for a moment. My grandmother looked lonely. Garlic also feel pity. "Okay Grandma, I'll stay with grandma for a week, from grandmothers do not get bored with me," said Garlic with a smile.
 
During the week Garlic stay with the grandmother. Garlic each day helps with homework grandmother. Of course, the old woman feel good. Until eventually even been a week, my grandmother was summoned garlic.
"Son, have you lived here a week.
And I'm glad that you are a diligent and dutiful. For that according to my promise you can take your mother's clothes to go home. And another thing, you may choose one of two this pumpkin as a gift! "Said the grandmother.
Garlic initially refused to be rewarded but still forced her grandmother. Finally Garlic select the smallest pumpkin.
"I'm afraid not bring a big strong," he said. Grandma smiled and Garlic deliver up to the front of the house.
 
At home, Garlic handed his stepmother's red shirt as he went into the kitchen to split the pumpkin yellow. Garlic surprise when the pumpkin was cut, turned out to contain gold jewelry in it very much. He screamed so happy and gave this magic to his stepmother and red onion with langsun greedy grab the gold and jewels. They forced the garlic to tell how he could get the prize. Garlic also told the truth.
 
Hear stories garlic, onion and her mother plan to do the same thing but this time the red onion will do it.
In short, onion finally arrived at the old house on the edge of river. Like garlic, red onion was asked to accompany him for a week. Unlike an avid garlic, red onions for a week was just being lazy. If anything is done then the result is never good because it is always done poorly. Finally after a week's grandmother was allowed to leave the red onion. "Is not it supposed to be grandmother gave me a pumpkin as a gift because it keep you company for a week?" Asked a red onion. My grandmother was forced to send onions to choose one of two offered pumpkin. With the quick red onion take a big pumpkin and without saying thank you he walked away.
 
Arriving at the house red onion soon meet his mother and happily shows gourd he was carrying. For fear of garlic will ask for parts, they sent garlic to go into a river. Then they split impatiently these pumpkins. But it was not gold jewels out of these pumpkins, but venomous animals such as snakes, scorpions, and others.
The animals were immediately attacked the red onion and his mother to death. That is the reward of those who get greedy.

BLACK CAT MYTHS

:
 
You know in every story witch we can be sure there is a "black cat" of his. By Halloween night this year, a symbol of black cats sold in the form of small doll or a key chain at various selling accessories. Why a black cat is always associated with witchcraft or magic world?

This stems from the history of the ancient Babylonian era when a black cat in a ritual ceremony dedicated to burn with other offerings. This myth arises because there is a black cat who slept in the midst of a snake with pulasnya, at that moment a snake is a symbol of evil.

This understanding continues to grow until mid-century. In Germany, there is a belief that if there is a black cat that jumped into the sick bed, death will come on the sick person. Another with the beliefs of Normandy, they believed if the way you see a black cat that was crossing in the middle of a full moon, they believe that you will be attacked by an epidemic.

In Firlandia, the people there believe that the cat hitamlah that brings the human soul into the afterlife. In China, the presence of a black cat is a sign that they will be exposed to disease or will become poor.

His story changed a little elsewhere, in India, the reincarnated soul can be relieved by throwing black cats onto the fire. There is a legend of Bengali that there is a woman who could change the human soul into a black cat, and every black cat that hurt will hurt her too.

Community Celts believed that black cats can predict the future. Druids of ancient Britain at the time believed that the cat is the incarnation of someone who do evil in the past then the law becomes a black cat.

Well, blame the druids, for they have been link the black cat with Halloween, ghosts and witches.

There are also other faiths, who said that black cat is one of the witches disguise. Though no witnesses have ever witnessed a witch who turns into a black cat or a black cat that turns into a witch, but they say that one day they hurt a black cat and black cat was injured, and keesokaan day they found the same wound The same place the cat on a woman injured.